Iklan

Amaliyah Menyambut Bulan Muharram (Suro) 1442 H

8/24/2020, 00:43 WIB Last Updated 2020-08-23T17:43:14Z

 

 (foto diambil dari merdeka.com)

 

Oleh: Saiful Islam al-Ghozi

 

Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa/ Muharram dalam penanggalan Hijriah adalah bulan yang mulia dan unik. Mulia karena banyak hadis yang menjelaskan tentang kemuliannya. Apalagi di dalamnya ada hari Asyura, hari kesepuluh bulan Muharram yang merupakan hari istimewa. Unik karena banyaknya kegiatan aneh-aneh di dalamnya.

Keistimewaan Asyura -selain karena keterangan hadis- juga tidak lepas dari banyaknya peristiwa penting yang terekam dalam sejarah.

Diantaranya adalah diterimanya tobat Nabi Adam AS, Nabi Idris ASdiangkat ke langit, Nabi Nuh AS turun dari perahu setelah mengarungi lautan luas akibat banjir bandang berbulan-bulan, Nabi Ibrahim AS keluar dari gunungan api yang telah sekian lama membakarnya, dan Nabi Yusuf AS keluar dari penjara. Juga Nabi Ya’qub AS yang sembuh dari kebutaan, Nabi Ayyub AS sembuh dari penyakit kusta yang telah tujuh tahun dideritanya, Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan raksasa, Nabi Musa AS membelah lautan yang akhirnya menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya, dan jaminan terampuninya dosa Nabi Muhammad AS baik yang sudah maupun yang belum dilakukan juga terjadi di bulan Muharram/ Suro. Dan masih banyak peristiwa-peristiwa penting lainnya yang terjadi di bulan tersebut

Namun Suro/ Muharram berbeda dengan Ramadlan. Meski Ramadlan bulan paling mulia, tradisi di masyarakat tetap murni Islami. Tidak seperti Suro yang banyak tradisi bernilai campur-campur, ya agama, ya animisme, ya beraroma kesyirikan. Ritual kegiatan yang biasa dilakukan masyarakat adalah mulai puasa, menjamas pusaka, ruwatan, membuat jimat, mengusap kepala anak yatim, membuat bubur atau makanan Suro, sesajen untuk para danyang, Grebeg Suro, tapa bisu, tidak melaksanakan pesta pernikahan, dan masih banyak lagi. Lantas apa sajakah yang merupakan ajaran atau tuntunan agama Islam?

 

1. Puasa 

Berpuasa pada bulan Muharram/ Suro sangatlah dianjurkan. Banyak hadis sahih menjelaskan. Diantaranya: 

 Dari Abi Hurairah , beliau berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadlan adalah bulan Allah, Muharram (Suro: Jawa). 

Shalat yang paling utama setelah shalat fardlu adalah shalat malam.” (HR. Muslim No. 2.812) Melihat keumuman hadis ini, bahwa puasa di bulan Suro atau Muharram tidak khusus di hari kesembilan dan sepuluh saja. Akan tetapi dimanapun hari asal masih dalam lingkup bulan Muharram tetap mendapatkan keutamaan dan sangat besar pahalanya. Tidak ada perbedaan dari para ulama tentang kesunahan puasa Asyura (hari kesepuluh Muharram). Dalam Shahih al-Bukhari diriwayatkan hadis:

 Diriwayatkan dari Ibni Abbas , beliau berkata, “Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal sepuluh Muharram (Asyura). Lalu mereka ditanya mengenai hal tersebut. Kemudian mereka menjawab, “Hari ini adalah hari dimana Allah memberi kemenangan kepada Musa dan Bani Israil atas Firaun. Dan kami berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk pengagungan kepadanya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Kami lebih berhak dengan Musa daripada kalian.” Lalu Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari No. 3.943) Sementara puasa Tasu’a (hari kesembilan Muharram) adalah berdasarkan hadis sahih yang lain. Yang menjelaskan bahwa Rasulullah hendak menjalankan puasa pada hari itu dengan tujuan supaya tidak menyerupai Yahudi. Meskipun sampai wafat Rasulullah belum sempat mengamalkannya. Hadis tersebut ialah

Rasulullah SAW bersabda, “Tahun depan in sya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas berkata, “Belum tiba tahun berikutnya, Rasulullah SAW wafat.” (HR. Muslim No. 2.722)

 

2. Mengusap Kepala Anak Yatim 

Muharram/ Suro kerap disebut sebagai hari rayanya anak yatim. Sebab di bulan ini ada anjuran dari Rasulullah SAW agar kaum muslimin mengusap kepala anak yatim. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal  

Diriwayatkan dari Abi Hurairah , seorang laki-laki mengadukam kepada Rasulillah SAW tentang kekerasan hatinya. Maka Rasulullah bersabda, “Jika kau ingin melembutkan hatimu, berikan makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim. (HR. Ahmad) Hadis tersebut secara umum menjelaskan bahwa menyantuni dan mengasihi fuqara’ masakin dan anak yatim tidak hanya khusus di bulan Muharram saja tetapi dimanapun waktu pada tiap-tiap tahun. Para ulama berbeda pendapat di dalam memaknai arti mengusap kepala anak yatim. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, al-Fatawa al-Haditsiyyah, menerangkan bahwa yang dimaksud mengusap adalah mengusap secara hakiki. Sedangkan menurut Imam ath-Thaiyyi dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih yang dimaksud kata ‘mengusap’ pada hadis tersebut adalah arti kinayah, yaitu memberikan kasih sayang serta berbuat penuh kelembutan dan cinta. Lalu kenapa tanggal sepuluh Muharram? Tentu karena bulan Muharram –apalagi Asyura- adalah waktu yang mulia, sehingga amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya juga bernilai lebih utama.
 

3. Membaca Wirid dan Doa

Bacaan wirid yang dibaca diantaranya adalah seperti yang disampaikan Syaikh Abdul Hamid Kudus, seorang mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram asal Indonesia, adalah membaca Ayat Kursi sebanyak 360 kali. Kemudian membaca doa di bawah ini

Ya Allah, wahai Dzat Yang Memindah Beberapa Perilaku, pindahkanlah perilakuku menuju perilaku yang paling bagus, dengan rekayasa dan kekuatanMu, wahai Dzat Yang Maha Mulia. Rahmat dan keselamatan Allah SWT semoga ditetapkan atas Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya. Juga kita dianjurkan membaca doa awal tahun dan akhir tahun. Doa ini sama halnya dengan doa awal bulan. Dalam hal ini ditemukan riwayat:
 
Diriwayatkan dari Abdillah bin Hisyam, bahwa para sahabat Nabi mempelajari doa ini jika sudah masuk tahun atau bulan, “Ya Allah, pertemukanlah bulan atau tahun ini dengan kami dengan aman, iman, selamat, Islam, ridla dari Dzat Yang Maha Pengasih, dan selamat dari setan.” (HR. Ath-Thabarani dalam al-Ausath dan sanadnya hasan) Dikarenakan doa awal bulan boleh dibaca di awal tahun, maka doa akhir bulan juga boleh dibaca di akhir tahun. Metode semacam ini disebut qiyas/ analogi. Berikut ini riwayat hadisnya:
 
Dari Busyair, budak yang dimerdekakan oleh Muawiyah, bahwa ia mendengar sepuluh sahabat Nabi, diantaranya adalah Hudair Abu Farwah, mereka berdoa jika melihat hilal, “Ya Allah, jadikanlah bulan kami yang lalu sebagai bulan yang baik, dan kesehatan yang baik. Pertemukanlah bulan kami ini dengan selamat, Islam, aman, iman, sehat, dan rezeki yang bagus.” (HR. Ibnu as-Sunni) Sementara dalam riwayat lain juga disebutkan riwayat mengenai doa awal tahun dan akhir tahun, sebagaimana yang sering di ajarkan oleh KH. R. Muhaimin Asnawi terhadap para santri. Yaitu hadis riwayat imam at-Tirmidzi sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Adzkar karangan Imam an-Nawawi halaman 171:
 Diriwayatkan dari Thalhah bin Ubaidillah , bahwasanya Nabi Muhammad SAW ketika melihat bulan berdoa, “Ya Allah, pertemukanlah bulan itu kepada kita dengan aman, iman, selamat, dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah SWT.” (Berkata Imam at-Tirmidzi: hadis hasan) 
 
 
Diriwayatkan dari Ibni Umar , Rasulullah SAW ketika melihat bulan berdoa, “Allah Maha Besar. Ya Allah, pertemukanlah bulan itu kepada kita dengan aman, iman, selamat, dan Islam, pertolongan terhadap sesuatu yang Engkau cintai dan ridlai. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah SWT.” (HR. Ad-Darimi)
 
Kita juga boleh berdoa dengan berbagai macam doa yang telah disusun oleh para ulama, sebagaimana yang ada dalam kitab al-Barzanji atau kitab yang lain.
 
 
  Diterbitkan ulang dari Buletin Dakwah Nahdlatul Ulama Kecamatan Bandongan - Lemaga Dakwah Nahdlatul Ulama - MWC NU Kecamatan Bandongan

Komentar

Terkini