Iklan

Pandangan-Pandangan Al Imam Abu Hasan Al-Syadzali Dalam Kitab Manakib Karya Al-'Allamah KH Dalhar Watucongol (Bag.1)

5/08/2023, 08:16 WIB Last Updated 2023-05-08T01:16:31Z

 

Oleh KH Abdul Azis Idris (Wakil Katib Syuriyah PCNU Kab. Magelang)

Sebagai mursyid thoriqoh Syadzillah, KH.Dalhar Watucongol bukan saja membimbing jamaah dengan dzikir dan aurod Syadzillah semata. Namun juga membimbing secara literasi dengan menyusun kitab Manakib ( sejenis biografi, lebih spesifik kepada hal-hal yang istimewa) Al-Imam Abu Hasan Al-Syadzali. Ini penting karena tradisi jamaah thoriqoh di Indonesia lebih cenderung kepada pemahaman dan pengamalan secara tutur ( dawuh-dawuh) dan laku Mursyid yang kemudian ditiru dan diamalkan. Sekalipun pola seperti ini sekalipun telah menghantarkan para penganut thoriqoh pada makom Ihsan ( kedudukan dekat dengan Alloh ) tetapi bagi sebagian kalangan menjadi sulit untuk dikaji dari sisi fiqh, ketika satu dawuh, atau amalan ternyata tidak disebut dalam kitab-kitab primer fiqh. dan bahkan memunculkan pemahaman yang bisa berbeda dengan para Mursyid sebelumnya.

Menjadi menarik untuk dikaji bahwa kitab Manakib ini. KH.Dalhar menyebut dawuh-dawuh Al-Imam Abu Hasan, yang sepertinya sudah benar-benar dipilih oleh KH.Dalhar bisa mudah difahami dan menjadi pedoman rujukan dalam mensikapi pelbagai persoalan. Setidaknya ada beberapa hal yang beliau kutip, yakni :
1, terkait toriqoh dan mengikutinya, seperti : 


لا تختر من الأمر شيأ، واختر إن لا يختار
"Jangan pernah memilih sesuatu, pilihlah terhadap perkara yang tidak dipilih".
Sebuah bentuk dawuh tentang penting kepasrahan totalitas seorang hamba terhadap hal-hal didunia ini, menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Alloh sekalipun dalam benak seorang hamba hal tersebut bukan merupakan pilihannya. Karena bagi penempuh jalan toriqoh termasuk sebuah kebaikan adalah ridlo dengan ketentuan dari Alloh, sebaliknya termasuk sebuah sikap yang tercela bahkan dalam pandangan al-Imam Abu Hasan Al-Syadzali bisa membatalkan amal kebaikan adalah ketidaksukaan seorang hamba terhadap ketentuan ( qodlo' ) dari Alloh SWT.

Penempuh toriqoh adalah orang-orang yang sudah sepenuhnya menghadap kepada Alloh, maka beliau mengutip dawuh Al-Imam ketika seorang penganut toriqoh sedang mendapati rasa berat untuk berdzikir, berkata-kata yang kurang bermanfaat, anggota tubuh terbuai syahwat, tertutupnya pintu tafakur dalam kemaslahatan maka Al-Imam memberi isyarat itu adalah bentuk dosa, karena ada kehendak munafik dalam pribadinya. Dan tiada jalan membersihkan hal tersebut kecuali dengan taubat, memperbaiki diri, berpegang teguh dengan Alloh, ikhlas dalam laku agama. Sebagaimana ayat : 


إِلَّا ٱلَّذِینَ تَابُوا۟ وَأَصۡلَحُوا۟ وَٱعۡتَصَمُوا۟ بِٱللَّهِ وَأَخۡلَصُوا۟ دِینَهُمۡ لِلَّهِ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۖ
 

"Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman ". ( QS. Al-nisa :146 ). Pada ayat ini beliau memberi dawuh kenapa Alloh tidak mengatakan من المؤمنين tetapi mengatakan فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَعَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۖ tentu perlu perenungan.

Ditulis dalam rangka Haul Al-Maghfurlah KH.Dalhar Watucongol
Senin, 17 syawwal 1444 H / 8 Mei 2023

Komentar

Terkini

Sejarah

+