Iklan

Spiritualitas oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA

10/11/2021, 17:09 WIB Last Updated 2021-10-11T10:21:14Z


Salah satu tugas Nabi Muhammad Saw. adalah melakukan pendidikan spiritual. Ngaji-ngaji yang beliau gelar di masjid atau di tempat lainnya tidak hanya sekedar kegiatan transfer ilmu, tapi juga berfungsi penguatan spiritual. Sejumlah ayat Al Quran menegaskannya. Kita bisa baca QS. Al Baqarah/2: 129 dan 151; QS. Āli ‘Imrān/3: 164; serta QS. Al Jum’ah/62: 02. Saya ingin menyertakan salah satunya di sini:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” QS. Āli ‘Imrān/3: 164.
 

Fungsi inilah yang dengan terang kita baca dari kisah Hanẓalah ra. Ia adalah salah satu sekertaris Rasulullah, hal yang mungkin dapat memberi persepsi adanya kedekatan pribadi antara keduanya. Ia mengeluh kepada Abu Bakar ra. bahwa saat bersama Rasulullah Saw., mendengarkan petuah-petuahnya tentang sorga dan neraka, ia merasa benar-benar kuat iman dan islamnya sehingga seakan ia bisa melihat sorga dan neraka itu. Namun, jika ia telah pulang kembali, bertemu dengan istri dan anak-anaknya, juga melakukan pekerjaannya, suasana spiritual yang ia alami bersama Rasulullah banyak yang sirna. Atas semua itu, ia merasa seperti orang munafik. Ternyata Abu Bakar, tempat ia menyampaikan keluh-kesahnya, juga merasakan hal yang sama. 
 

Keduanya lalu sowan kepada Baginda Rasul untuk menyampaikan ini. Jawaban Rasulullah Saw. sangat menggembirakan, bahwa yang seperti itu bukan pertanda munafik. Allah SWT. tidak membebani mereka untuk ajeg dalam rasa spiritualitas seperti saat bersama Rasulullah Saw. Kata Rasulullah kepada Hanẓalah, “Akan tetapi, wahai Hanẓalah, sesaaat .. sesaat.” Beliau mengulanginya hingga tiga kali.[1] Mungkin maksudnya adalah ada saatnya benar-benar konsentrasi beribadah seperti halnya ketika bersama Rasulullah, dan ada saatnya untuk untuk menyenangkan diri seperti bersama keluarga dan saat bekerja. [2]
 

Dalam cerita ini tampak sekali keberadaan Rasul Saw. sebagai magnet bagi para sahabat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini pulalah yang kemudian dijalankan oleh para sahabat penerus keulamaan sepeninggal Rasulullah. Posisi apapun yang dijalani, termasuk sebagai penguasa atau pengusaha, mereka tetap menghadirkan diri sebagai “penjaga” spiritualitas umat. 
 

Salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di dunia Islam adalah Al Azhar di Mesir. Ia dibangun oleh Dinasti Fathimiyyah, yang menganut Mazhab Syiah, pada tahun 361 H/972 M. sebagai masjid sekaligus lembaga pendidikan Syiah. Dinasti Fathimiyyah diambil-alih oleh Dinasti Ayyubiyyah yang Sunni di bawah pimpinan Shalahuddin Al Ayyubi pada tahun 567 H/1171 M. Khutbah di Masjid Al Azhar ditiadakan selama hampir 100 tahun. Masjid Al Azhar kembali dibuka untuk salat pada tahun 1266 atas perintah sultan Mamluk, Al Malik Aẓ Ẓāhir Rukn ad Dīn Baibars, dan Pada 17 Desember 1267, atas perintahnya pula, Al Azhar kembali menyelenggarakan salat Jumat. Di era Mamalik ini, Al Azhar juga kembali menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikin, akan tetapi sebagai lembaga Sunni bukan Syiah. Banyak ulama besar yang keilmuannya terkait dengan lembaga pendidikan Al Azhar, seperti Ibn Khaldūn (732—808 H./1332—1403 M.), Ibn Ḥajar Al ‘Asqalānī (773—852 H./1371—1449 M.), As Sakhāwī (831—902 H.), Ibn Taġrī Bardī (813—874 H./1410—1470 M.), dan Al Qalqasyandī (756—821 H./1355—1418 M.).
 

Di era ini, pimpinan tertingginya masih disebut dengan nāẓir seperti waqaf-waqaf lainnya. Meski tanpa formalitas tertentu, semua kalangan telah mafhum bahwa Al Azhar tidak saja mengajarkan ilmu, namun juga merupakan simbol spiritualitas. Akan tetapi, dengan berjalannya waktu, simbol spiritualitas ini tampaknya perlu ditegaskan secara formal. Sultan Otoman, Suleyman Al Qānūnī (1494—1566 M.), menetapkan dekrit perlunya mengangkat Syaikh Al Azhar yang dipilih oleh para ulama. 

Syekh Al Azhar pertama adalah Muhammad bin Abdullah al Khurāsyī. Ia ditetapkan sebagai Syaikh Al Azhar sejak tahun 1101 H./1690 M hingga tahun 1106 H./1695 M. Sampai sekarang, telah diangkat 44 Syekh Al Azhar. Syaik Al Azhar tidak saja merupakan pimpinan intelektual Islam, akan tetapi juga merupakan simbol pimpinan spiritual. Beberapa nama dari Syuyūkh Al Azhar sangat akrab di telinga kita, santri-santri pesantren, seperti: Abdullah Asy Syarqāwī (1150—1227 H.), penulis Ḥāsyiyah Asy Syarqāwī ‘alā Tuḥfah Aṭ Ṭullāb; Hasan Al ‘Aṭṭār, penulis Ḥāsyiyah Al ‘Aṭṭār ‘alā Syarḥ al Maḥallī ‘alā Jam’ al Jawāmi’; dan Ibrāhīm Al Bājūrī, penulis Ḥāsyiyah al Bājūrī ‘alā (Fatḥ al Qarīb). 

Muhammad Ali Pasha, penguasa Mesir antara tahun 1805 dan tahun 1848, melakukan modernisasi besar-besaran di Mesir, termasuk lembaga Al Azhar. Tradisi pembaharuan ini terus bergulir hingga puncaknya pada tahun 1961, di mana Al Azhar secara resmi berubah menjadi Universitas. Pembaharuan di Al Azhar memiliki kekhasan tersendiri, karena ia tetap bertahan pada tradiri (tradisi). Jangkar tradisi tetap kokoh meski mengalami pembaharuan-pembaharuan. Buku-buku turats tetap dikaji dengan baik. Dan, yang terpenting, Syaikh Al Azhar—pimpinan tertinggi yang menyimbolkan spiritualitas dan intelektualitas—tetap di pertahankan. Al Azhar tidak saja hadir dalam forum-forum akademik-intelektual, tapi juga hadir dalam forum-forum spiritual-keagamaan dunia, sejajar dengan pimpinan-pimpinan agama lain. Tokoh-tokoh intelektual-spiritual dunia lahir dari Al Azhar modern ini. Sebut saja misalnya, Asy Syaikh Muhammad Ramaḍān Al Būṭī, Asy Syaikh Wahbah Az Zuḥailī; As Sayyid Al ‘Ārif bi Allāh Muhammad bin ‘Alawī Al Mālikī; dan Al Habīb Muhammad Quraish Shihab.

Nahdhatul Ulama lahir tahun 1926 oleh sejumlah kyai kharismatik yang dipimpin oleh Hadhratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asyari (1871—1947 M.). Semua mafhum bahwa ini adalah organisasinya para ulama. Nilai-nilai spiritual adalah ruh utama organisasi. Berbagai keputusannya banyak yang tidak saja di dasari oleh nilai-niai rasionalitas, akan tetapi juga didasari oleh semacam ilham spiritual. Gerak langkahnya tak pernah luput dari pertimbangan keagamaan-spiritual. Masyarakat pun mengerti bahwa tunduk-patuh kepada Nahdhatul Ulama bukan semata bersifat organisatoris, akan tetapi juga berdimensi spiritual. Sang Maha Guru, Syaikhona Khalil, pada tahun 1924 mengutus santrinya, KH. As’ad Syamsul Arifin—dikemudian hari menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo—untuk menyerahkan sebuah tongkat kepada KH. Hasyim yang juga adalah santrinya. Tongkat ini adalah simbol tongkat Nabi Musa as. Beliau membacakan QS. Thaha/20: 17—21: 

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى (18) قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى (21)

“17. Apa yang ada di tangan kananmu itu, wahai Musa?” 18. (Musa) berkata, “Ia adalah tongkatku. Aku (dapat) bersandar padanya, merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan memiliki keperluan lain padanya.” 19. (Allah) berfirman, “Lemparkanlah (tongkat) itu, wahai Musa!” 20. Maka, dia (Musa) melemparkannya. Tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. 21. Dia (Allah) berfirman, “Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya pada keadaannya semula.”
 

Dalam tradisi sufistik, Tongkat Musa dimaknai sebagai simbol kepemimpinan spiritual. Ismail Ḥaqqī, dalam Tafsirnya, mengatakan, dalam tongkat terdapat isyarat bahwa para nabi adalah penggembala umat. Mereka harus menjaganya dari ‘srigala syetan’ dan ‘singa hawa nafsu’. Sebagian ahli makrifat menyampaikan, tongkat adalah gambaran mengenai nafs al muṭmainnah, jiwa yang tenang, yang dapat menghancurkan persepsi-persepsi salah (al mauhūmāt) dan khayalan-khayalan (al mutakhayyalāt).[3]
 

Akhir tahun 1924 Syaikhona Khalil kembeli mengutus santrinya, KH. Syamsul Arifin. Kali ini untuk membawa tasbih. Dia meminta agar tasbih dikalungkan di lehernya. Tasbih dalam tradisi sufistik juga merupakan simbol spiritual, sama seperti halnya tongkat. Imam As Sayūṭī, dalam bukunya Al Minḥah fi As Sabḥah, mengutip dari Ibn Khalikān dalam Wafiyyāt al A’yān, bahwa suatu hari Abū al Qāsim Al Junaid bin Muhammad terlihat membawa tasbih di tangannya. Lalu, disampaikan kepadanya, “Engkau dengan segala kemuliaanmu masih menggunakan tasbih di tanganmu?”. Ia pun menjawab, “(ini adalah) jalan yang mengantarkan diriku ‘wushul’ kepada Tuhanku. Saya tidak akan berpisah darinya.”[4] Imam As Sayūṭī lalu menyebut sanad musalsal tasbih yang sambung sampai Imam Ḥasan Al Baṣrī, ia mengatakan, “Ini adalah sesuatu yang kami gunakanan pada awal-awal (jalan). Kami tidak akan meninggalkannya di (jalan-jalan) penghujung. Saya menyukai zikir kepada Allah dengan hatiku, serta dalam tangan dan lisanku.”[5]
 

Barangkali, inilah salah satu yang melatar-belakangi kenapa banyak warga NU berharap, bahwa kelas Nahdhatul Ulama ini harus dijaga sekuat tenaga. Sebentar lagi Nahdhatul Ulama punya gawe terbesarnya, yakni Muktamar, yang akan diselenggarakan di Lampung 23—25 Desember. Siapapun yang nanti terpilih, sedikit-banyak secara simbolis dia mewarisi tongkat dan tasbih Hadhratusy Syekh KH. Hasyim Asyari. Dia harus dipilih dengan hati nurani yang paling dalam, serta melalui cara-cara yang menebarkan aura spiritualitas. Begitu pula pimpinan tanfidziyahnya, karena sejatinya ia adalah pelaksana kebijakan lembaga Syuriah, meskipun ia tidak sesakral Syuriah.
 

Beberapa waktu lalu, Ahad 3 Oktober, kami, Sekolah Tinggi Agama Islam Al Anwar, kedatangan Rais Am Nahdhatul Ulama. Kami merasa sangat terhormat. Kampus ini didirikan oleh guru spiritual-intelektual Kami, KH. Maimoen Zubair, dengan cita-cita besar ingin menyelaraskan antara intelektualitas dan spiritualias. Karena itu, secara struktural di atas Ketua ada Majelis Pengasuh. Seperti disampaikan Kyai Luthfi Thomafi, alhamdulillah kami pernah kerawuhan KH. Musthofa Bisri dan KH. Makruf Amin, dua Rais Am Nahdhatul Ulama pada eranya. Bagi kami, Rais Syuriah Nahdhatul Ulama adalah tokoh spiritual Bangsa Indonesia.

==

[1] Kisah ini diriwayatkan oleh Al Imām Muslim dari Hanẓalah bin Ar Rabī’ al Usaidī ra.:

عَنْ حَنْظَلَةَ الْأُسَيِّدِيِّ، قَالَ: - وَكَانَ مِنْ كُتَّابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: لَقِيَنِي أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: كَيْفَ أَنْتَ؟ يَا حَنْظَلَةُ قَالَ: قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ مَا تَقُولُ؟ قَالَ: قُلْتُ: نَكُونُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، فَنَسِينَا كَثِيرًا، قَالَ أَبُو بَكْرٍ: فَوَاللهِ إِنَّا لَنَلْقَى مِثْلَ هَذَا، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ، حَتَّى دَخَلْنَا عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْتُ: نَافَقَ حَنْظَلَةُ، يَا رَسُولَ اللهِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «وَمَا ذَاكَ؟» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ نَكُونُ عِنْدَكَ، تُذَكِّرُنَا بِالنَّارِ وَالْجَنَّةِ، حَتَّى كَأَنَّا رَأْيُ عَيْنٍ، فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ، عَافَسْنَا الْأَزْوَاجَ وَالْأَوْلَادَ وَالضَّيْعَاتِ، نَسِينَا كَثِيرًا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي، وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلَائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً» ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

[2] Al Amīr al Kaḥlānī Aṣ Ṣan’ānī, At Tanwīr Syarḥ al Jāmi’ Aṣ Ṣaġīr, jilid 6, hal. 275.
[3] Ismail Ḥaqqī, Rūḥ al Bayān, jilid 5, hal. 373.
[4] Al Imām As Sayuṭī, Al Minḥah fi As Sabḥah, hal. 27; Ibn Khalikān, Wafiyyāt al A’yān
[5] Al Imām As Sayuṭī, Al Minḥah fi As Sabḥah, hal. 28—29.

__________
oleh KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen,MA 

Komentar

Terkini