Iklan

Nasib Sekolah Anak-anak

7/19/2020, 21:52 WIB Last Updated 2020-07-19T14:52:15Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

(foto dari nu.or.id)

Oleh Indra Setiawan

Pandemi virus corona telah menyebabkan 3.600 siswa di LP Ma’arif Kabupaten Magelang tidak bisa melaksanakan Pembelajaran secara Tatap muka. Untuk pertama kalinya dalam selama saya hidup, satu generasi anak-anak di seluruh dunia terganggu pendidikannya.

Tak sedikit orang tua yang mengeluhkan anaknya yang hampir kehilangan mood untuk belajar akibat terlalu lama libur. Ada semacam lost spirit educational, kehilangan semangat belajar. Setiap hari jika tidak main HP, maka bermain  dengan teman-teman satu kelompoknya. 

Sedangkan sebagian yang lain terancam paparan pornografi akibat setiap hari pegang HP dan lemahnya kontrol orang tua. dan orang tua sendiri sibuk menata ekonominya yang sedang ambruk akibat pandemi.

Ada lagi sebagian yang lain hampir tidak mau berhenti main game, baik offline maupun online. Dengan alasan belajar online yang saat ini menjadi program Madrasah/ Sekolah, orang tua selaku wali murid mengambil jalan dengan membelikan HP baru untuk anaknya. Hal ini umumnya dilakukan oleh orang tua yang mempunyai uang sisa.Serta lengkap dengan kuota internet yang besar bahkan ada yang memasang paket Wifi. 

Akan tetapi bagi orang tua yang ekonominya serba kurang, jangankan beli HP dan kuota internet, untuk makan yang layak saja merka sudah luar biasa sulitnya. Ditambah lagi bagi masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, soal kekuatan sinyal adalah masalah yang serius.

Pihak Madrasah/ Sekolah juga di lema dalam menghadapi Wali Murid antara yang siap pembelajaran daring dan ada yang menghendaki KBM secara tatap muka.  Dan pihak Madradsah/ Sekolah akan tambah bingung jika ada pertanyaan dari wali murid “Akan sampai kapan wah ini berlangsung?”, karena wali murid mengira bahwa sosok guru adalah seseorang yang serba “tahu”! 

Sementara institusi pesantren yang memberanikan diri memulai KBM tatap muka, mulai dipersalahkan dan dijadikan kambing hitam ketika ditemukan kasus 'positif covid'. Ramai sekali media memberitakannya. Namun kalau kita sebut mereka sengaja mengeroyok pesantren tersebut, mereka tidak terima. 

Kondisi anak-anak selama tidak sekolah tidak lebih aman dan tidak lebih sehat daripada jika mereka tetap sekolah. Apa gunanya aman fisik dan badan, jika mental spiritual mereka rusak akibat HP dan kecanduan game online dan pornografi?  Benarkah itu definisi dari kesehatan dan keselamatan jiwa yang dimaksud oleh banyak kalangan? 

Sebagian orang menakut-nakuti dengan ancaman klaster baru dan lain sebagainya, sedangkan ada ancaman yang sebenarnya jauh lebih mengerikan yang tidak disadari banyak orang yaitu kering kerontangnya jiwa umat dan rapuhnya mental spiritual mereka. Padahal efek dari pandemi ini adalah ancaman resesi dan krisis ekonomi yang panjang. Apa akibatnya jika resesi dan krisis ekonomi ini dihadapi dengan jiwa yang rapuh? 

Terus bagaimana solusi dari kondisi ini? Tentu akan banyak saran dan pendapat terkait ini dan sah-sah saja kita berbeda pendapat soal ini. Berdebat dan berbeda pendapat terkait persoalan ijtihad itu hal lumrah. 

Salah satu solusinya adalah, memperkuat basis keluarga dengan konsekuensi orang tua harus lebih intens dan fokus dalam mendampingi putra putrinya selama belajar di rumah. Namun, hal ini tidak lah mudah karena latar belakang pendidikan dan ekonomi orang tua berbeda-beda. 

Solusi yang lain adalah mengembalikan fungsi dan peranan masjid di lingkungan kita masing-masing. Masjid harus kembali menjadi pusat-pusat pendidikan. Karena selama liburan ini anak-anak tetap bermain dengan teman-temannya bahkan dari luar lingkungannya, kenapa tidak boleh belajar bersama? Namun ini juga ada kendala terkait kesiapan takmir dan pengurus masjid, belum lagi bagi anak-anak yang orang tuanya alergi dengan masjid.

Kita berpendapat, anak-anak masuk Madrasah/sekolah seperti biasa dengan tetap menjalankan protokol covid yang ada, sekalian mengajarkan mitigasi kepada mereka (learning by doing) agar mereka tanggap bencana dan survive. 

Sikap sebagian kita ini ibarat orang yang punya komputer. Karena takut ancaman virus, maka ia bungkus komputernya, tidak boleh dinyalakan dan dioperasikan. Kalaupun boleh dioperasikan, tidak boleh tersambung dengan internet atau dimasuki flashdisk. Semua itu dilakukan dengan alasan khawatir tertular virus. Bagi saya ini sikap over protektif dan berlebihan. 

Semestinya mesin komputer itu tetap dipakai bekerja dan dimanfaatkan. Adapun proteksinya dengan cara menginstal antivirus dan sering-sering meng-updatenya setiap saat. 

Bukankah dalam tubuh manusia sudah ada antivirus ciptaan Allah swt yang jauh lebih canggih yang kita kenal dengan imunitas. Buktinya jumlah pasien yang sembuh jauh lebih banyak daripada yang wafat. Sedangkan yang wafat pun masih terbagi-bagi lagi dengan berbagai sebab, termasuk penyakit bawaan yang sudah lama diderita. Seharusnya imunitas ini yang ditingkatkan, lalu tawakal kepada Allah swt setelah ikhtiar itu dilakukan. 

Jadi solusi dari ancaman ini adalah mengubah pola pikir  kita dari sikap lari dan bersembunyi kepada sikap berani menghadapi dengan tetap berhati-hati. Wallahu a'lam...

Penulis adalah Sekretaris LP Ma'arif NU Kabupaten Magelang

Komentar

Terkini