Iklan

Aku belum NU, Kamu?

2/22/2020, 12:30 WIB Last Updated 2020-02-22T05:30:24Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini
Jam'iyah Nahdlatul Ulama telah berdiri sejak tahun 1926 M., tepatnya pada tanggal  31 Januari 1926 M. Hampir berusia satu abad. 

NU didirikan oleh para kyai melalui proses riyaadhah dan idak mungkin sembarangan. 

Karena NU didirikan oleh para kyai yang notabene lurus dalam pikiran, perbuatan dan ucapan, ia menjadi organisasi yang mempunyai pengikut terbesar di Indonesia bahkan dunia.

Dalam perkembangannya NU menjadi organisasi kemasyrakatan yang mampu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. NU sangat dinamis karena tidak menutup diri dari perubahan namun tetap memegang kuat salah satu prinsipnya, yaitu al-muhaaafazhatu 'ala qadiim as-shaliih wa akhdzu bi al-jadiid al-ashlaah.

Hadhratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari adalah ulama yang sangat mumpuni dalam keilmuan agama, gelar beliau hadhratussyaikh; karena beliau sangat 'aliim. Berbagai disiplin ilmu beliau kuasai. Bahkan beliau juga sangat produktif menulis kitab. 

Generasi NU dari masa ke masa terus mengalami pergantian, Sumber Daya Manusia di NU seakan tiada pernah habis. Ibarat kata, mati satu tumbuh seribu. 

Basis pendidikan pesantren yang menjadi kawah candradimuka penggemblengan intelektual NU sangat teruji, banyak cendikawan NU lahir dari pendidikan pesantren. Sebutlah K.H. Baha'udin Nursalim atau Gus Baha'. Kealiman beliau sudah sangat teruji, bahkan masuk dalam tim pentashih al-Quran dimana hanya Gus Baha yang berlatar belakang pendidikan pesantren tanpa pendidikan di perguruan tinggi, rekan kerjanya semua menyandang gelar akademis. 

Demikianlah sosok figur tokoh-tokoh NU yang selayaknya ada, kalau standar kealiman yang menjadi dasar keNUan seseorang, maka saya belum NU.

Di NU terbuka lebar kesempatan untuk memperbaiki diri, menjadi insan yang lebih baik. Karena NU adalah tempat penuh berkah. Banyak sekali media untuk belajar secara langsung. Dengan kita berkhidmat di NU tentu akan bertemu dengan para kyai, masyaayikh dan figur-figur shalih lainnya. Kita bisa belajar adab secara langsung dari mereka.

Masuk di NU untuk menjadi baik, dan lebih berguna bagi diri, keluarga dan lingkungan. Saat ini penulis merasa belum baik dan masih jauh dari baik. Maka saya merasa belum menjadi NU, Kamu?

Hafidh Fuadi
Ketua LTN-PCNU Kab. Magelang

Komentar

Terkini