Iklan

Pandemi Covid-19, Seleksi Alam untuk Guru

6/24/2020, 02:55 WIB Last Updated 2020-06-23T19:55:16Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


MAGELANG - Menurut Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif PCNU Kabupaten Magelang, Drs. sugeng Riyadi, M.Eng., bahwa corona seolah menjadi seleksi alam bagi para pengajar. Mereka yang enggan mengikuti perkembangan teknologi informasi otomatis tereliminasi. Sebaliknya, bagi yang cepat beradaptasi, akan tetap eksis.

"Kita tetap harus bijak menyikapi bahwa corona ini ada plus- minusnya. Plus-nya, guru dipaksa menguasai teknologi dengan cepat. Minusnya, persiapannya serba dadakan, bahkan relatif tanpa persiapan sehingga dikhawatirkan materi pembelajaran daring (online) kurang menarik," kata Sugeng Riyadi ditemui di ruang LP Ma'arif PCNU Kab.agelang.

Moda pembelajaran daring, kata Sugeng Riyadi, sejatinya wacana lama yang telah berhembus di dunia pendidikan, namun belum terealisasi akibat tidak ada target waktu yang jelas. Sehingga wabah Covid-19 ini menjadi momentum yang tepat mereformasi metode konvensional ke model digital.

Menyikapi keluhan sebagian besar orangtua peserta didik tentang materi pelajaran daring yang dinilai berat dan menjenuhkan, pria asal Ngluwar Kab. Magelang ini mengajak elemen guru (khususnya LP Ma'arif PCNU Kab. Magelang) untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya. 

Beliau melanjutkan, mengajar adalah seni. Sehingga setiap guru memiliki ciri khas masing-masing agar materi daring yang disampaikan tidak membosankan. "Pertama, guru harus berhasil menjadi orang yang disenangi oleh muridnya. Bagaimanapun caranya. Kalau sudah disenangi, materi yang disampaikan akan dengan mudah terserap. Dan jangan lupa tinggalkan metode-metode yang kaku, yang tidak relevan lagi dengan zaman kekinian," pintanya.

Lebih lanjut, ia juga berpesan kepada orangtua peserta didik agar memperhatikan betul kedisiplinan dan aktivitas putra-putrinya selama belajar dari rumah. Sebab, kata dia, masa pandemi ini berpotensi memengaruhi karakter anak. Contoh kecil, biasanya mereka wajib bangun pukul 6.00 pagi, lalu berangkat ke sekolah, sekarang sudah tidak berlaku.

Contoh lain, adalah kerapian rambut, pergaulan dan aktifitas ibadah selama aktivitas ke Madrasah/sekolah belum diperbolehkan. Sementara guru tidak bisa memonitor langsung ke rumah masing-masing peserta didik. "Kami mohon para orangtua agar benar-benar memperhatikan anak. Inilah saatnya orangtua dan guru lebih serius lagi bersama-sama menjaga generasi penerus bangsa," tegas mantan Kepala SMK Ma'arif Kota Mungkid ini.

Ia mengakui, semua elemen sedang menghadapi tantangan berat, khususnya guru yang terus berjuang memelihara agar iklim akademik dan semangat belajar peserta didik tidak padam selama proses belajar-mengajar tatap muka belum diizinkan oleh pemerintah. Tantangan ini belum termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan paket internet.

Kontributor: Indra
Editor: Najib Chaqoqo
Komentar

Terkini