Iklan

Menyimak Pesan Ayat Dalam Khutbah Id Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang.

5/29/2020, 13:47 WIB Last Updated 2020-05-29T06:47:29Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Oleh : Abdul aziz idris

Materi khutbah idul fitri yang disusun oleh KH. Toha Mansyur untuk kesempatan kali ini disamping singkat, dan padat juga memberi isyarat yang dalam akan nilai nilai yang perlu dijadikan pegangan dan rujukan terlebih dengan keadaan saat ini. Ayat itu adalah ayat ke 30 dari surat Ar - ruum.

 فأقم وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
Arti: " Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Kutipan ayat yang dijadikan penutup dalam khutbah Idul fitri yang di sampaikan KH. Toha Mansyur selaku Rois Syuriyyah PCNU Kab. Magelang setidaknya memberi petunjuk, arahan dan sekaligus dawuh bahwa dari pemahaman ayat ini, setidaknya kita menjadi semakin yakin akan keberadaan manusia di muka bumi ini. 
Dalam pandangan Prof. Dr. M. Quraish Shihab ayat 30 surat Ar rum mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap insan, dan hal tersebut merupakan fitrah ( bawaan ) manusia sejak awal kejadiannya. Hal senada juga yang difahami oleh Imam Fakhrur rozi, Imam Baidhowi yang memahami ayat ini hanya dalam persoalan aqidah, dengan dasar bahwa ayat ayat sebelumnya berisi kecaman terhadap kemusyrikan, dan batalnya keyakinan orang orang musyrik. Ada yang menarik pandangan Imam Muhammad At-Thohir ibnu 'Asyur terkait ayat ini. Beliau memandang ayat ini bukan hanya berbicara persoalan tauhid, dengan mentaqdirkan ( mengadakan dengan ungkapan bahasa yang lain ) , 

إذَا علمتَ مابينٓاه للناس في الدلائل الوحدانية وابطال الشرك :( فأقم وجهك ) أي توجه لدين الاسلام الذي هو الفطرة .
" Ketika kamu mengetahui apa yang telah kami jelaskan kepada manusia dalam ( persoalan ) dalil dalil keesaan ( Tuhan ) dan batalnya kesyirikan. Maka menghadaplah kepada agama Islam yang merupakan fitroh " .

Makna fitroh disini adalah aqidah dan syariah sebagaimana tafsir Imam Zamahsyari bahwa manusia tercipta untuk bisa menerima aqidah dan syariah Islam. Lebih lanjut bahwa fitroh adalah keteraturan yang Alloh SWT wujudkan kepada setiap makhluk, fitroh manusia adalah terciptanya manusia secara lahir , batin, dalam bentuk jasad, dan akal serta hati. Manusia berjalan dengan kaki adalah fitroh secara jasad, maka kalau kemudian memungut, mengambil sesuatu dengan kaki bukan dengan tangan adalah bentuk menyelisihi fitroh, begitu juga orang menabur benih untuk kemudian berharap mendapatkan panen adalah juga bentuk fitroh akal, andai ada yang berharap memanen dengan tanpa menanam dan bentuk iktiyar lain maka hal tersebut termasuk berlawanan dengan fitroh akal. Maka jika kemudian agama Islam disebut agama fitroh karena dogma, dan ajaran / syariah islam adalah perkara yang bisa diterima oleh akal dan berlandaskan kepada kesesuaian yang bisa diterima oleh akal. 

Fitroh merupakan pondasi dasar maqoshid syariah atau tujuan tujuan dari sebuah ajaran, sehingga dinamika kehidupan masyarakat seperti apapun Islam tetap akan luwes dan bisa di jadikan rujukan bagi sebuah pemikiran dan sikap yang mendasarkan kepada nilai nilai maslahah. Ketika dalam keadaan normal dan keadaan yang tidak seperti biasa, bahkan keadaan yang diluar perkiraan manusia, dalam suasana peperangan, bencana dan musibah massal. 

Saat inipun manusia harus kembali kepada fitroh untuk bukan hanya sekedar melaksanakan syariah tetapi memahami bahwa pelaksanaan syariah sebagai bagian usaha manusia untuk kembali kepada keberlangsungan kehidupan alam ini. Memahami syariah sesuai dengan pemahaman yang telah menjadi hal yang disampaikan dengan turun menurun dan bersanad adalah upaya yang perlu di jadikan tradisi yang mengakar. Sehingga pemahaman berislam menjadi utuh dan bisa dipertanggungjawabkan dihadapan Alloh SWT. Setelah tranfer ilmu tentu amal, lelaku juga berdasar nilai kearifan tidak cukup hanya berdasar dalil yang difahami secara subjektif dan kaku. Dan yang lebih terpenting lagi bahwa masing masing dari individu manusia mempunyai peran, dan fungsi sosial yang berbeda-beda, yang petani kembali rajin ke sawah, yang pegawai ke kantor dan lain sebagainya urusan beragama dan hukum serahkan kepada para ahlinya, para Kyai, Pesantren sebagai sumber dan gudang ilmu.

Pangkat, 4 Syawwal 1441 H 
                 27 Mei 2020
Komentar

Terkini