Iklan

Hari Santri Nasional, Momentum Kaum Santri Turun Gunung

10/16/2021, 13:06 WIB Last Updated 2021-10-16T06:06:58Z


Oleh KH. Abdul Azis Idris
Wakil Katib Syuriyah PCNU Kabupaten Magelang

Sejak ditetapkan hari santri nasioanal tahun 2015 oleh presiden Joko Widodo semangat merayakan hari santri sedemikan tinggi pun saat kondisi masih pandemi, ada letupan semangat bahwa kehadiran santri sebagai bagian dari bangsa ini menjadi sangat berarti. Karena memang kontribusi dan peran santri sudah sedemikian lama dan mensejarah bagi bangsa ini. Jauh hari sebelum bangsa ini memproklamirkan diri sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat, santri sudah mengambil peran yang besar. 

Santri memang seperti dawuh Allohu yarham KH. Abdul Aziz Manshur Pacul Gowang; " Qum haisu aqomakalloh / Bertempat lah dimana Alloh menempatkanmu !". selalu menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Bisa menjadi petani, pedagang, pegawai atau apapun. Tetapi yang lebih terpenting seperti paku, bisa memberi manfaat di manapun berada dan dalam posisi sebagai apapun. Sekalipun mungkin peran ini tidak nampak secara langsung. Dan peran ini telah berhasil dilakukan oleh santri santri dari Wali Songo dan Ulama, Kyai terdahulu sehingga kemudian saat peran ini menuntut eksistensi dan pengakuan secara verbal dalam masyarakat modern hampir pasti kalangan santri tidak begitu menganggap penting dan cenderung abai. Sehingga dalam buku-buku sejarah menjadi minim data dan fakta terkait hal ini. 

Era sekarang menjadi keniscayaan bagi kalangan santri untuk tampil di depan dalam segala bidang demi nilai-nilai prinsip Islam Ahli Sunnah wal jama'ah yang rahmatan lil 'alamin, sebab beberapa faktor ; 
1, tersebarnya pemahaman yang berbeda dan cenderung bertentangan dengan faham Ahlu Sunnah wal jama'ah, sehingga prinsip tawasuth menjadi terkikis yang berakibat mudahnya terjadi friksi dan bahkan konflik kemasyarakatan hanya karena perbedaan pendapat yang bersifat furuiyyah/cabang atau persoalan yang bukan prinsipil dalam beragama. 
2, keberadaan pemahaman Islam yang anti budaya membuat wajah Islam negeri ini yang tadinya ramah, mudah beradaptasi dan bisa bersanding dengan budaya lokal justru melahirkan pribadi yang inferior dan bernyali kerdil ketika berhadapan dan bahkan berbenturan dengan budaya lain. 
3, perkembangan teknologi informasi yang sedemikian pesat melahirkan generasi Z yang cenderung bersikap pragmatis, taktis dan serba instan yang kalau tidak disikapi dengan prinsip-prinsip aqidah Ahli Sunnah wal jama'ah akan membuat pemahaman agama menjadi sangat dangkal dan hanya sebagai bagian dari gaya hidup semata. 
Namun persoalan di atas yang sebenarnya bagian dari perubahan masyarakat memang menjadi hal yang wajar disikapi karena santri di setiap masa dan tempat selalu akan berhadapan dengan pola, sikap dan bahkan mungkin tradisi yang sedikit berbeda dan bahkan kadang bertolak belakang dengan komunitas yang selama ini kaum santri berinteraksi. 
Setidaknya ada dua prinsip yang bisa menjadi pijakan dan standar saat kaum santri harus turun gunung dan berbaur dengan masyarakat, seperti : 
1, prinsip الدين معاملة ( agama adalah interaksi ).
Dengan bekal ilmu kepesantrenan yang dipelajari, terlebih ilmu syariah, santri dikenalkan dari awal untuk selalu berhubungan dengan masyarakat secara sosial, ekonomi dan bahkan dalam urusan peribadahan. Teori ilmu yang dipelajari bukan saja sekedar teori dari ruang tersendiri yang jauh dari masyarakat, namun justru landasan teori ilmu-ilmu yang dipelajari selalu berdasarkan atas hasil pengamatan, dan bahkan interaksi dengan kehidupan masyarakat, bahkan dari hiruk pikuk Masyarakat yang dilandasi pemahaman akan nash-nash suci yang juga tidak melulu berbicara tentang hal-hal ketuhanan tetapi justru porsi terbanyak terkait dengan manusia sebagai makhluk penghuni dunia ini. Dengan dasar ini sudah selayaknya pesan dan risalah kenabian yang di tumpuk di punggung kaum santri tersampaikan kepada masyarakat melalui proses yang alamiah, suka rela dan bahkan penuh kesadaran.
2, Prinsip agama adalah kebaikan ( الدين النصيحة ) 
Pesan ringkas dan sederhana dari Rosululloh saw ini memberi gambaran yang singkat tentang tema besar agama Islam, upaya, i'tikad, keinginan untuk membuat kebaikan, menyebarkannya, sehingga menjadi nilai asasi dalam beragama. 
Kebenaran agama pada prinsipnya adalah hal yang mutlak, sekalipun mungkin tafsir akan kebenaran itu bisa berbeda, namun ketika tercipta perbedaan dalam tafsir tentang agama, Tuhan juga membuka ruang yang cukup untuk dimaknai bahwa perbedaan itu adalah wajah lain dari sebuah Rahmat Alloh SWT. Maka yang tetap perlu di fahami, di yakini dan kemudian dijadikan pedoman adalah Rahmat Alloh SWT selalu mengiringi setiap pikiran, langkah selama muaranya adalah kebenaran agama. Maka moment HSN ini penting bagi makna tugas dan tanggung jawab kaum santri terhadap masyarakat dan bahkan bangsa dan negara tercinta ini. 
Selamat Hari santri Nasional 2021


Komentar

Terkini