Iklan

Idul Fitri, Covid-19 dan Teladan Kyai

5/22/2020, 07:53 WIB Last Updated 2020-05-22T08:27:13Z
(foto dari Liputan6)

Oleh: Ahmad Zaenal Mubarrok

Ramadhan yang agung nan mulia akan berlalu. Umat Islam bersiap merayakan Hari Raya Idul Fitri, Hari Kemenangan. Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H ini, di kalangan santri dan masyarakat banyak mendapat Surat Edaran dari para Kyai Bunyai pengasuh Pondok-pondok Pesantren, bahwa di masa Pandemi Covid-19, keluarga ndalem (baca:Kyai Bunyai) tidak menerima tamu. Sebuah pilihan sulit. Sudah menjadi tradisi di kehidupan masayarakat islam Indonesia termasuk kalangan Pesantren, bahwa Momentum Idul Fitri adalah momentum silaturrahim, momentum ngalap barokah dan meminta nasehat para Kyai Bunyai. Sebuah implementasi dari Hadits Nabi Muhammad SAW 

رحمه فليصل الآخر واليوم بالله يؤمن كان من

“Barang siapa beriman/percaya kepada Allah dan Hari akhir, maka hendaklah menyambung hubungan silaturrahim”. (HR Bukhari Muslim)

Momentum kebaikan-kebaikan tersebut tahun ini harus berbagi dengan Pandemi covid-19. Sehingga banyak diantara para Kyai Bunyai “terpaksa tidak menerima tamu” sementara waktu. Bukan niat untuk memutus tali silaturrahim, tapi dalam rangka Hifdz al-Nafs atau menjaga jiwa untuk keberlangsungan kehidupan manusia. Memang satu diantara lima Maqosid al-Syari'ah (tujuan disyariatkan nya perintah Allah) adalah Hifdz al-Nafs atau menjaga jiwa. Secara sederhana menjaga jiwa disini bisa dimaknai umat Islam berkewajiban untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Sehingga tidak saling melukai atau melakukan pembunuhan antar sesama manusia. Intinya, jiwa manusia harus selalu dihormati. Manusia diharapkan saling menyayangi dan berbagi kasih sayang dalam bingkai ajaran agama Islam serta yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejak virus Covid-19 muncul di Wuhan dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, setidaknya telah menyebabkan jumlah korban sebanyak 323.413 jiwa meninggal dunia dari hampir 5 juta kasus positif Covid-19. Di Indonesia, angka kematian sebesar 1.242 dari 19.189 kasus positif Covid-19. (Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kementerian Kesehatan RI per tanggal 20 Mei 2020). Menurut para ahli, virus ini memang sangat gampang menular melalui kontak fisik. Menjaga jarak dengan orang lain atau Social distancing diyakini menjadi cara paling ampuh agar virus ini tidak menular dan segera hilang.

Dalam tatanan kehidupan masyarakat di suatu daerah, sosok Kyai atau tokoh agama adalah figur penting dalam menjalankan fungsi sosial kemasyarakatan. Peran Kyai dalam "ngemong" masyarakat, sangat nampak ketika momentum Hari Raya / Lebaran tiba. Masyarakat akan berbondong-bondong sowan silaturahim, ngalap barokah, memohon nasehat, do'a kepada para Kyai Bunyai. Namun tampaknya, pemandangan seperti itu tidak akan terlihat di perayaan Lebaran Idul Fitri 1441 H ini. Karena para Kyai Bunyai, Pondok-pondok Pesantren, telah mengeluarkan Surat Pemberitahuan bahwa Hari Raya Idul Fitri tahun ini tidak menerima tamu. Sangat nampak kearifan para Kyai Bunyai dalam menjaga jiwa umat manusia. Silaturrahim memang sangat baik, tapi silaturrahim jika bisa mengancam keselamatan jiwa orang lain tentu menjadi madharat. Hal ini juga sebagai bentuk dukungan para Kyai Bunyai kepada Ulil Amri / Pemerintah untuk bersama-sama mencegah penularan Covid-19. Semakin banyak yang tertular atau positif Covid-19, semakin besar peluang angka kematian.

Jadi, mari kita bersama-sama Ulama’ dan Umara’ bergotong royong agar Virus Covid-19 tidak menular ke keluarga, saudara, handai taulan dan masyarakat kita dengan menjaga jarak satu sama lain. Termasuk sementara waktu tidak berkunjung atau sowan silaturrahim dahulu kepada para Kyai Bunyai panutan kita. Di era indstri 4.0 saat ini, kita bisa silaturrahim secara online / virtual yang tentunya tidak mengurangi makna silaturrahim itu sendiri.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayat Kedunglumpang, Salaman, Magelang dan Katib Syuriah MWC NU Kecamatan Salaman

Komentar

Terkini