Iklan

Spiritualitas Agama, Etos dan Nasib

8/23/2020, 23:59 WIB Last Updated 2020-08-23T16:59:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

 

 
Oleh Ahmad Labib Asrori
 
(Tulisan ini hanya berlaku bagi orang yg percaya adanya Tuhan, agama dan garis taqdir)
 
Bagi sebagian orang yg berpikir rasional, bhw kekayaan, kesuskesan, kegagalan dan kemiskinan sepenuhnya tidak dapat dilepaskan dari kecerdasan, keahlian, skill, etos kerja, proses dan upaya-upaya. Seringkali kita mendengar ungkapan "Hasil tidak mengkhianati proses." Secara sekilas pernyataan itu terdengar logis dan rasional. Bahwa kerja keras akan menghasilkan suatu hasil yg optimal, atau setidaknya dibanding dengan hasil yg diperoleh tanpa kerja keras. Dalam teori kontra prestasi, seseorang berhak mendapatkan sesuatu dalam kuantitas dan kualitas tertentu apabila ia sudah melakukan sesuatu dalam kuantitas dan kualitas tertentu. Orang yg bekerja berhak mendapatkan buah dari hasil kerjanya sesuai dg level kualitas dan kuantitas kerjanya. Orang yg berdiam diri tidak berhak mendapatkan apa-apa, bahkan sekedar berharap saja juga tidak berhak. Gaji, upah dan bentuk imbalan lainnya dalam dunia bisnis berbanding lurus dg pekerjaan. Dalam perspektif rasionaltas seperti ini, keadilan diukur dari perolehan yg dikomparasikan dg pekerjaan dan hasil kerja.
 
Cara pandang seperti di atas sudah jamak menjadi mindset kebanyakan orang. Pengalaman empirik, fakta, fenomena sosial yg ada menggiring hampir semua orang cara pandang itu. Sebenarnya cara pandang seperti tidak sepenuhnya salah, meski juga tidak sepenuhnya benar. Ada sisi-sisi tertentu dalam kehidupan ini yang tidak sepenuhnya dapat dipandang dg rasionaltas dan logika. Apalagi dg cara matematis nan simetris.
 
Diakui atau tidak diakui, setiap orang pasti pernah mengalami apa yg disebut "keberuntungan" yg dalam kata lain bisa dimaknai dg "keuntungan yg tidak disengaja.". Kadang-kadang kita bertemu dg fakta-fakta tak terduga, hasil yg tak terprediksi, rasa yg tak terukur dan hal-hal lain yg tidak sepenuhnya logis, hal-hal yg tak dapat diukur dg proses yg dijalani. Hasil itu bisa jadi di atas perhitungan atau di bawah perhitungan. Sesuai ekspektasi, di atas ekspektasi atau di bawah ekspektasi. Yg sesuai ekspektasi disebut kepuasan, yg di atas ekspektasi disebut keberuntungan dan yg di bawah ekspektasi disebut kesialan atau kegagalan.
 
Melihat bebagai pengalaman seperti disebut di atas perlu kiranya kita secara sungguh-sungguh melihat apa yg ada dalam lubuk hati yg terdalam, bukan hanya melihat apa yg ada di otak kita. Kejujuran mengakui bhw ada suatu kekuatan di luar diri kita yg tidak kita lihat dan tidak kita dengar, tetapi dapat kita rasakan menjadi sangat penting. Kehadiran kekuatan itu setiap saat hati kita dapat merasakan, meski otak kita kita kadang menolaknya. Otak kita selalu berpikir bhw apapun yg terjadi adalah hasil dari  proses yg sdh kita tempuh. Mari sedikit kita kesampingkan rasionalitas, sejenak kita menilik spiritualitas hati kita. Kehadiran kuasa Allah, Tuhan kita dalam setiap fase kehidupan kita sejak embrio hingga dewasa, bahkan sebelum itu. Pasti kita akan temukan hal-hal yg tidak sepenuhnya diukur dg logika dan rasionaltas kita.
 
Tuhan telah rencanakan dg rigid apa terjadi di alam raya ini. Tuhan juga telah tentukan jalan mana yg layak ditempuh dan mana yg seharusnya dijauhi. Tuhan telah menjanjikan pahala dan dosa dan tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Maka usaha, keahlian, kecerdasan, etos, proses dan hasil tak dapat dilepaskan dg garis Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dalam perspektif theologis itulah yg disebut taqdir atau ketentuan Allah yg terukur. Orang yg bersombong dg kesuksesan, kekayaan dan kejayaan serta orang yg putus asa dg kegagalan dan kemiskinan adalah orang yg "lupa" akan adanya Tuhan, agama dan taqdir.
 
Hukum causalita, sebab akibat atau hukum alam sebenarnya merupakan "sunnatullah" atau hukum Tuhan. Dg kata lain hukum causalita adalah kehendak dan kuasa Tuhan yg diperjalankan secara terus menerus. Meski ada saat kita melihat fenomena yg tidak sesuai dg hukum causalita, artinya Tuhan sedang berkehendak "lain."
 
Mindset seperti itu akan sangat menghindarkan orang dari sikap sombong dan putus asa. InsyaAllah Semoga saja tulisan ini sesuai dg ketentuan dan garis Allah. Tetapi siapapun boleh tidak setuju. Ini hanya pendapat saya sesuai arahan dan ajaran dari guru-guru saya. Di antara guru-guru saya adalah panjenengan semua. Semoga bermanfaat...!

Terima kasih dan mohon maaf.

Mari selalu gelorakan semangat
Tebarkan kebaikan
Taburkan kasih sayang
Berbagi karunia.


A. Labib Asrori
(Murid Anda semua) 

Penulis adalah Katib Syuriah PCNU Kabupaten Magelang dan Pengasuh Pondok Pesantren Irsyadul Mubtadi'in Tempuran

Komentar

Terkini